3/15/2009

SHEIKH IBRAHIM AD DASUQI

SHEIKH IBRAHIM AD DASUQI

Ibrahim Dasuqi dilahirkan di Mesir tahun 623 H di desa Dasuq. Ia tumbuh besar di lingkungan jamaah ahli wara’ dan taqwa. ketika dewasa beliau tumbuh dalam suasana senang beribadah seperti Syekh Muhammad bin Harun, seorang sufi yang alim.
Dalam manuskrip Taufiqiyah ada keterangan, bahwa pada abad ketiga Hijriah di Dasuk ada tiga buah istana, pertama milik Sayid Abd Ali, yang kedua milik Imam Qashabi guru di Masjid Sayid Ahmad Badawi dan yang ketiga milik Sayid Basuni Far, semua bangunan istana ini disediakan untuk menyambut para tamu yang datang ke Dasuk sewaktu peringatan Maulid Sayid Ibrahim Dasuki disamping juga menyediakan makanan bagi fakir miskin yang ikut datang ke perayaan itu.
Di antara tokoh-tokoh terkenal dari daerah ini adalah Syekh Ibrahim Dasuki bin Abd Aziz Abu al-Majd yang nasabnya berujung ke Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ibu Syekh Ibrahim Dasuki ini adalah Fatimah binti Abdullah bin Abd Jabar, saudari sekandung tokoh sufi terkenal Sheikh Abu Hasan Syadzili. Syekh Ibrahim Dasuki ini juga masih punya silsilah satu nasab dengan Wali Qutb kota Thanta Sheikh Ahmad Badawi pada kakek kesepuluh Ja’far al-Turki bin Ali al-Hadi.
Silsilah Sheikh Ibrahim Ad Dasuqi
Arif Billah Ibrahim ad-Dasuqi bin Abd Aziz Abu al-Majd bin Quraisy bin Muhammad bin Abi an-Naja bin Zainal Abidin bin Abdul Khaliq bin Muhammad Abi at-Thaib bin Abdul Katim bin Abdul Khaliq bin Abi Qasim bin Ja`far Zaki bin Ali bin Muhammad al-Jawwad bin Ali ar-Ridha bin Musa Kazhim bin JA`far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah binti Rasulullah s.a.w.
Dari kecil beliau dikenal sangat rajin beribadah, memiliki kerajian yang tinggi mengalahi teman-temannya, timbuh dan membesar di kalangan masyarkat yang soleh, memiliki sifat – sifat terpuji yang beliau warisi dari kakeknya baginda Rasulullah s.a.w.
Beliau sangat sopan santun, pengasih, pemurah, suka menolong orang, rajin beribadah, taat terhadap orang tua, menghormati ulama dan orang-orang soleh, wara`, pendiam, pintar dan pandai.
Dari kecilnya telah mengikuti pengajian-pengajian agama, belajar membaca dan menulis, belajar berbagai disiplin ilmu agama dari ulama-ulam yang berada di kampung halamannya, menekuni fiqih Syafi`i dan mendalaminya, dan seterusnya belau mempelajari ilmu tasawuf dan memperdalaminya dengan semangat yang kuat sehingga beliau memang benar-benar berenang di lautan makrifah, menjadi tonggak besar tasawuf di Mesir dan seluruh penjuru dunia.
Beliau juga mengikuti jejak pamannya dari ibu, Sheikh Abu Hasan Syadzili pendiri Tarekat Syadziliyah. Beliau belajar ilmu bahasa dan agama juga menghafal Al Qur’an dan hadits juga ushul fiqh berdasarkan madzhab Syafii sementara ia masih kecil. Ada suatu keterangan yang mengatakan beliau mulai ber-khalwat sejak usia lima tahun. Dan sewaktu memasuki usia remaja dan semakin rajin ber-khalwat maka kemudian mulailah datang kepada beliau beberapa orang untuk belajar tariqah, di antara mereka yang ternama adalah Sayid Abu Nasr yang makamnya dikenal dengan namanya di Dasuk.
Syekh Dasuki ini selalu berada di tempat khalwat-nya sampai ayahnya meninggal, kemudian turunlah beliau dari tempatnya itu, yang saat itu beliau masih berusia 23 tahun, murid-muridnya mengharapkan supaya beliau meninggalkan tempat khalwat-nya itu, sehingga bisa konsentrasi mengajar mereka, kemudian dibuatkanlah suatu tempat di samping tempat khalwat beliau.
Tariqah beliau ini dikenal dengan nama Tariqah Burhaniyah, yang diambil dari namanya atau Tariqah Dasukiyah, diambil dari nama daerahnya. Ibrahim Dasuki dan para pengikutnya ini memakai sorban warna hijau sementara sorban yang dipakai oleh Sayid Badawi dan para pengikutnya berwarna merah, sedangkan para pengikut Tariqah Rifaiyah berwarna hitam.
Sewaktu Sultan Dzahir mendengar tentang keilmuan Ibrahim Dasuki juga banyak pengikut yang dipimpinnya, segera dia mengeluarkan maklumat yang mengangkatnya sebagai Syekh Islam, maka beliau pun menerima jabatan itu dan melaksanakan tugasnya tanpa mengambil gajinya, tapi membagikan gaji dari jabatan ini kepada pada fakir miskin dari kalangan muslimin. Sultan kemudian juga membangun sebuah tempat pertemuan untuk Syekh dan para muridnya dalam belajar memahami agama, jabatan ini tetap dipegang oleh Syekh Ibrahim sampai meninggalnya Sultan kemudian setelah sultan meninggal, beliau mengundurkan diri, meluangkan waktunya bagi para muridnya.
Syekh Dasuki ini adalah seorang yang pemberani tidak mendekat kepada penguasa dan tidak takut akan celaan orang-orang yang mencela di dalam menyebarkan agama Allah. Syekh Jalaludin Karki bercerita; bahwasannya Syekh Dasuki ini pernah berkirim surat kepada Sultan Asyraf Khalil bin Qalawun yang berisi kritikan pedas padanya, karena perbuatan dhalim yang dilakukan kepada rakyat. Maka Sultan pun murka dan memanggil Syekh, tapi Syekh Dasuki ini menolak untuk mendatangi panggilan ini dan berkata: ”Aku tetap di sini, siapa yang ingin bertemu saya, maka dialah yang harus menemuiku”. Dan Sultan pun tidak bisa berbuat banyak terhadap Syekh karena dia tahu posisinya di mata masyarakat, maka diapun datang kepadanya dan minta maaf. Dan Syekh pun menyambutnya dengan baik dan memberi kabar gembira akan kemenangannya dalam peperangan melawan tentara salib, dan memang terbuktilah kemudian kemenangan itu.
Latihan jiwa untuk menuju Allah tidak semudah mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya, sebab perjalanan menuju Allah memiliki berbagai macam tantangan dan rintangan dari jiwa, masyarakat dan syaitan, cobaan tersebut datang menghalangi Sheikh Ibrahim menuju Allah, tetapi Syeikh Ibrahim berhasil menepis segala halangan dan rintangan yang mengganggunya untuk mengenal Allah dan berjalan munujunya, zikir, istighfar, salawat merupakan bagian penting menuju perjalanan yang penuh dengan rintangan.
Dengan mujahadahnya Allah memilih beliau menjadi walinya, bahkan beliau mendapat gelaran wali Qutub dari seluruh para wali, dan beliau juga diantara Qutub empat yang masyhur, Qutubul Arba`ah adalah : Sheikh Abdul Qodir Jilani, Sheikh Ahamd Ar Rifa`i, Sheikh Ahmad Badawi dan Sheikh Ibrahim Ad Dasuqi, sebagaimana diyakini ulama tasawuf seperti Syekh Mahmud al-Garbawi dalam kitabnya al-Ayatuzzahirah fi Manaqib al-Awliya’ wal-Aqthab al-Arba’ah.
Diantara Karomah beliau adalah :
Beliau dilahirkan pada malam syak, yaitu hari yang di ragukan dan menjadi teka-teki apakah sudah memasuki puasa Ramadhan atau belum. Ketika para ulama ragu akan munculnya bulan sabit yang menunjukkan masuknya bulan Ramadhan, Syekh Ibnu Harun As-shufi ketika itu berkata: "Lihatlah anak yang baru lahir ini apakah dia meminum air susu ibunya"? Maka ibunya menjawab, “Dari sejak azan subuh, ia berhenti meminum air susu ibunya". Dengan demikian Syekh Ibnu Harun mengumumkan bahwa hari itu adalah hari pertama bulan ramadhan dan tanda-tanda kewalian Syekh Ibrahim Ad-Dusuqi RA sudah nampak dari sejak kelahiran beliau.
Berkata Imam al-Munawi : Seekor buaya telah menelan seorang anak di sungai nil, maka ibu sang anak mendatangi Syeikh Ibrahim Dasuqi dengan menangis tersedu-sedu, maka Syeikh meyuruh muridnya untuk memanggil buaya yang memakan anak ibu tersebut, maka datang muridnya dan berseru di tepi sungai Nil : ” Wahai sekalian buaya , siapa diantara kalian yang memakan seorang anak maka hendaklah dia muncul dan menghadap Syeikh “. maka muncullah buaya dan berjalan beserta murid sehingga sampai kehadapan Syeikh Ibrahim Ad-Dusuqi, maka Syeikh menyuruh buaya itu untuk mengeluarkan anak itu, maka buaya itu mengeluarkan anak itu dalam keadaan hidup, kemudian Sheikh Ibrahim berkata : Matilah kamu dengan seizin Allah “, maka segara buaya itupun mati.
Salah satu karamahnya yang terkenal adalah ketika beliau meramalkan kemenangan Sultan Asyraf Khalin ibn Qalawun dalam peperangan melawan tentara salib – dan ramalan itu terbukti tepat.
Sheikh Ibrahim al-Qurasyi ad-Dusuqi adalah Wali Quthub yang keempat dan yang terahir setelah Sheikh Ahmad Arrifa’i RA, Sheikh Abdul-Qadir al-Jilani RA dan Sheikh Ahmad al-Badawi RA
Syekh Dasuki ini di samping menguasai bahasa arab juga menguasai bahasa asing lain seperti bahasa Suryaniyah dan Ibriyah, karena beliau telah menulis sejumlah buku dan risalah dalam bahasa Suryaniyah. Syekh Dasuki meninggalkan banyak kitab dalam bidang fiqih, tauhid, dan tafsir. yang paling terkenal adalah kitab yang masyhur di sebut “Al-Jawahir” atau “Al-Haqaiq”, beliau juga punya Qasidah-qasidah dan Mauidzoh-mauidzoh.
Syekh Ibrahim Addasuqi RA bermazhab Syafi’ dan terkenal dengan beberapa julukan seperti Abul Ainain, abul Aunain dan Burhanul Millati Waddin.
Sheikh Ibrahim Dasuqi meninggal dunia pada tahun 676 hijriyah dan makam beliau di kota Dusuq Mesir.
Semoga Allah SWT selalu meridhoinya dan memberi kita semua manfaat dengannya. Allahumma Amin.
Ya Allah, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atasnya dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Amin
Sumber:
1.Jami` Karomati al-Auliya` : 1 / 398 , karangan Syeikh Yusuf an-Nabhani, cetakkan Darul Makrifah Bairut 1424 – 2003 .
2.Al-Khitatu Taufiqiyyah al-Jadidah : jilid 11, halaman 16, karangan Ali Basha cetakkan Hai`ah Masriyyah Ammah.
3.Thobaqatu Syazuliyyah : halaman 87, karangan Abi Ali Hasan bin Muhammad bin Qasim al-Kuhun al-Fasi al-Maghribi
4.Syekh Mahmud al-Garbawi dalam kitabnya al-Ayatuzzahirah fi Manaqib al-Awliya’ wal-Aqthab al-Arba’ah,
5.Assayyid Abul-Huda M.bin Hasan al-Khalidi Asshayyadi, kitab Farhatul-Ahbab fi Akhbar al-Arba’ah al-Ahbab

2 comments:

asminatul said...

Terima kasih atas respon permintaan saya mengenai SHECH ABDUL QODIR moga2 ALLAH SWT selalu memberikan kits kekuatan dan kelacaran amin

Naning Fitriya said...

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر
وﻻ حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Sungguh lah mulia kehidupan Auliya'... Mudah mudahan kita bisa meneladani dan mewarisi ke'aliman beliau... Amin amin ya allah