3/26/2026

H. MA'RUF BIN ABD. HAMID PASURUAN


H. Ma'ruf bin Abd. Hamid

Keteladanan Sosok Sederhana dengan Kemuliaan di Sisi Allah SWT

"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang telah menghiasi para wali-Nya dengan berbagai macam keistimewaan. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, serta para sahabatnya. Ketahuilah, sesungguhnya menyebut kisah-kisah orang saleh dapat mendatangkan rahmat Allah SWT dan memperkuat ikatan batin kita kepada para kekasih-Nya..."

A. IDENTITAS DAN ASAL-USUL

Nama Lengkap: H. Ma'ruf bin Abd. Hamid

Lahir: Sumberejo, Bojonegoro, Jawa Timur, Tahun 1330 H/ 1912 M

Wafat: Kota Pasuruan, Jawa Timur, Tanggal 05 Maulid 1387 H/ 1967 M

Lokasi Makam: Berdekatan dengan makam KH. Abd Hamid Pasuruan (almarhum dimakamkan di kompleks pemakaman Masjid Jami’ Kota Pasuruan atau berdekatan dengan guru dan waliyullah tersebut, sebuah kehormatan yang menunjukkan kedekatan beliau dengan sang Kiai semasa hidup maupun setelah wafat)

Status Keluarga: Seorang ayah dan kakek yang sangat dicintai keluarganya, meninggalkan anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicit yang kini meneruskan nilai-nilai luhur beliau, Amiin.

B. PERJALANAN HIDUP

Almarhum H. Ma'ruf bin Abd. Hamid lahir di desa Sumberejo, Bojonegoro, dari keluarga yang sederhana namun teguh dalam memegang ajaran Islam. Sejak muda, beliau dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, jujur, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama.

Dalam perjalanan hidupnya, beliau kemudian merantau dan menetap di Kota Pasuruan, tepatnya di daerah Bangilan. Di kota inilah beliau membangun rumah tangga, berkeluarga, dan menghabiskan sisa usianya hingga berpulang ke Rahmatullah. Meskipun bukan seorang yang kaya raya secara materi, beliau memiliki kekayaan hati yang luar biasa: keikhlasan, kedermawanan, dan kecintaan yang tulus kepada Allah SWT serta Rasul-Nya.

Semasa hidup, beliau dikenal sebagai sosok yang taat beribadah, khususnya dalam menjaga shalat berjamaah di Masjid Jami' Kota Pasuruan. Beliau juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan para ulama, terutama dengan Waliyullah terkemuka, KH Abd Hamid Pasuruan. Kedekatan ini bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual, hingga akhir hayat beliau dimakamkan bisa berdekatan dengan sang guru—sebuah simbol bahwa hubungan mereka tetap erat, bahkan setelah meninggal dunia.

C. KISAH-KISAH TELADAN

1. Keikhlasan Membangun Musholla: Istana Hijau di Akherat

Di suatu hari, terbesit dalam hati H. Ma'ruf keinginan mulia untuk membangun musholla bagi warga sekitar. Dengan penuh hormat, beliau menyampaikan impian suci ini kepada ayah mertuanya (H. Cholil). Tersentuh oleh ketulusan menantunya, sang mertua pun memberikan bantuan dana untuk membeli tanah dan dibangunanlah musholla tersebut. H. Ma'ruf mengawasi sendiri pembangunan musholla dengan penuh semangat.

Setiap tetes keringat yang jatuh ia niati karena Allah. Ia tak pernah merasa bahwa musholla itu bukan hasil jerih payahnya sendiri. Justru ia bersyukur, Allah memberikan jalan melalui mertuanya untuk mewujudkan impian itu.

Suatu hari sewaktu pembangunan Musholla, KH Abd Hamid Pasuruan menyampaikan sebuah kabar gembira kepada KH. Khumaidi. Dalam mimpinya, KH Abd Hamid melihat H. Ma'ruf telah diberikan oleh Allah SWT sebuah istana megah berwarna hijau (Zamrud) di surga. Istana itu adalah balasan atas keikhlasannya membangun musholla, meskipun dananya bukan dari hartanya sendiri. Allah melihat hati hamba-Nya yang ikhlas, bukan dari mana uang berasal.

Teladan: Keikhlasan adalah kunci diterimanya amal. Jangan pernah meremehkan kebaikan, sekecil apapun, karena Allah membalasnya dengan balasan yang tak terduga.

(Sumber : KH. Khumaidi Pasuruan)

"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Tawbah: 18)

 2. Kedermawanan Tanpa Batas: Tetangga yang Mendapat Pertolongan

Hasan Kaspandi, tetangga H. Ma'ruf, sedang dilanda kesusahan. Anaknya sakit, dan kesulitan keuangan, dan ia sudah berkeliling meminjam uang ke sana kemari termasuk kepada saudaranya sendiri, namun semuanya menolak.

Saat Hasan terlihat murung, H. Ma'ruf melihatnya dan menghampiri dan bertanya, "Kamu kok terlihat sedih Hasan, kenapa?".

Setelah mendengar cerita Hasan, tanpa berpikir panjang, H. Ma'ruf langsung meraih kotak uang yang ada. Ia mengambil uang tanpa menghitung jumlah, lalu menyodorkannya kepada Hasan. "Ini lho saya beri uang, tidak usah pinjam," katanya.

Hasan tertegun. Ia tak percaya ada orang yang begitu tulus membantunya, bahkan tanpa diminta dan tanpa menghitung.

Teladan: Tolonglah sesama dengan tulus, tanpa pamrih, dan tanpa menghitung-hitung. Terlebih kepada saudara, tetangga yang sedang kesulitan, karena mereka memiliki hak yang besar dalam Islam.

(Sumber: M. Junaid bin Hasan Pasuruan)\

 "Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (QS. Al-Bayyinah: 7-8)


3. Madinah di Samping Mekkah: Pengakuan Seorang Wali

Beberapa orang dari Bojonegoro datang sowan (bersilaturahmi) ke KH Abd Hamid Pasuruan. Ketika mereka mengatakan berasal dari Bojonegoro, KH Abd Hamid berkata, "Ada di Pasuruan ini orang dari Sumberejo Bojonegoro, namanya H. Ma'ruf, rumahnya di Bangilan. Sampeyan/ anda semua harus ke sana."

Kemudian beliau menambahkan sebuah perumpamaan yang sangat dalam: "Ibarat aku ini Mekkah, H. Ma'ruf itu Madinah. Sayang kalau tidak ke sana."

Para tamu itu pun pergi ke rumah H. Ma'ruf di Bangilan dan disambut dengan hangat oleh beliau yang ternyata berasal dari kampung halaman yang sama. Mereka pun pulang dengan membawa berkah dari dua kekasih Allah: KH Abd Hamid Pasuruan (Mekkah) dan H. Ma'ruf bin Abd. Hamid (Madinah).

Teladan: Orang shalih saling menghormati dan mengangkat derajat satu sama lain. KH Abd Hamid tidak pelit dalam memuji, dan H. Ma'ruf tidak sombong menerima pujian. Ini adalah akhlak para kekasih Allah.

(Sumber: Ma’ Ali, Bojonegoro)

"Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (QS. Yunus: 62-63)

4. Kemuliaan di Waktu Subuh: Diketuk Nabi Khidir

Selama tiga hari berturut-turut, setiap menjelang subuh, pintu rumah H. Ma'ruf diketuk oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Orang itu mengajaknya berangkat bersama ke Masjid Jami' Kota Pasuruan untuk shalat subuh berjamaah. Setiap selesai shalat, orang itu selalu menghilang tanpa pamit.

H. Ma'ruf yang penasaran kemudian sowan dan bertanya kepada KH Abd Hamid Pasuruan, "Yai, siapa yang setiap hari mengajak saya ke masjid itu ?"

KH. Abd Hamid menjawab dengan tenang, "Itu Nabi Khidir, 'Alaihissalam."

H. Ma'ruf terkesiap. Nabi Khidir, makhluk mulia yang disebut dalam Al-Qur'an, telah tiga pagi berturut-turut mengetuk pintunya, mengajaknya berjalan bersama menuju masjid. Ini adalah tanda bahwa Allah SWT mencintai hamba-Nya yang shalih ini.

Teladan: Konsistensi dalam ibadah, terutama shalat subuh berjamaah, mengundang perhatian langit. Allah memuliakan hamba-Nya yang istiqamah dengan kemuliaan yang tak terduga.

(Sumber: Ust. H. Hasan Ma’ruf)

"Dirikanlah shalat dari sesudah tergelincir matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula) shalat subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh Malaikat)." (QS. Al-Isra': 78) 


D. AKHIR HAYAT DAN MAKAM

Almarhum H. Ma'ruf bin Abd. Hamid menghabiskan akhir usia di Kota Pasuruan, terus beribadah dan berbuat baik hingga akhir hayat. Beliau wafat dalam keadaan husnul khatimah dalam usia 57 tahun, pada hari Selasa Legi tanggal 05 Maulid 1387 H atau 13 Juni 1967 M, sebuah karunia yang telah ditunjukkan sebelumnya melalui pertemuan dengan Nabi Khidir.

Sebagai bentuk kemuliaan dan kedekatannya dengan para ulama, dan kedermawanannya jenazah beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Masjid Jami’ Kota Pasuruan yang berdekatan dengan makam KH. Abd Hamid Pasuruan.

Hingga kini, makam beliau menjadi tempat ziarah bagi keluarga dan masyarakat yang ingin mengenang dan mengambil pelajaran dari kehidupan beliau.

 

E. PESAN UNTUK ANAK, CUCU, DAN CICIT

Bagi anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicit, Inilah warisan terbesar yang ditinggalkan oleh Almarhum H. Ma'ruf bin Abd. Hamid untuk kita semua. Bukan harta berlimpah, bukan tanah luas, bukan permata berkilau. Namun sebuah nama yang harum di dunia, dan istana hijau di surga yang menanti.

Dari kisah-kisah di atas, jadikanlah pelajaran-pelajaran berharga ini:

- Ikhlaslah dalam setiap amal. Allah tidak melihat besar kecilnya harta yang kita berikan, tapi seberapa tulus hati kita memberi.

- Jadilah pribadi yang dermawan. Ringankan tangan untuk membantu saudara sesama, terutama yang sedang kesusahan, tanpa perlu diminta dan tanpa menghitung-hitung.

- Jaga shalat berjamaah, terutama di waktu subuh. Siapa tahu, dengan keistiqamahan kita, Allah pun akan memuliakan kita sebagaimana Allah memuliakan ayah, kakek, buyut kita.

- Hormatilah para ulama dan orang shalih. Karena dengan menghormati mereka, kita akan mendapatkan berkah dan petunjuk dalam hidup.

- Tetaplah rendah hati, meskipun dipuji. H. Ma'ruf tidak pernah sombong meskipun disebut "Madinah" oleh seorang wali. Kerendahan hati adalah mahkota orang-orang shalih.

Semoga kisah hidup Almaghfurlah H. Ma'ruf bin Abd. Hamid menjadi lentera yang menerangi jalan hidup kita semua. Semoga Allah SWT mempertemukan kita semua dengan beliau di surga-Nya yang abadi, dalam naungan ridha dan ampunan-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

"Ya Allah Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakan-lah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (QS. Al-Kahfi: 10)

 

La hawla wa la quwwata illa billah

(Penulis : Al Faqir – Ramadhan 1447 H)





No comments: