Keteladanan Sosok Sederhana dengan Kemuliaan di Sisi Allah SWT
"Dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi
Allah yang telah menghiasi para wali-Nya dengan berbagai macam keistimewaan. Sholawat
serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga,
serta para sahabatnya. Ketahuilah, sesungguhnya menyebut kisah-kisah orang
saleh dapat mendatangkan rahmat Allah SWT dan memperkuat ikatan batin kita
kepada para kekasih-Nya..."
A. IDENTITAS DAN ASAL-USUL
Nama Lengkap: H. Ma'ruf bin Abd. Hamid
Lahir: Sumberejo, Bojonegoro,
Jawa Timur, Tahun 1330 H/ 1912 M
Wafat: Kota Pasuruan,
Jawa Timur, Tanggal 05 Maulid 1387 H/
1967 M
Lokasi Makam: Berdekatan
dengan makam KH. Abd Hamid Pasuruan
(almarhum dimakamkan di kompleks pemakaman Masjid Jami’ Kota Pasuruan atau
berdekatan dengan guru dan waliyullah tersebut, sebuah kehormatan yang
menunjukkan kedekatan beliau dengan sang Kiai semasa hidup maupun setelah
wafat)
Status
Keluarga: Seorang ayah dan kakek yang sangat dicintai
keluarganya, meninggalkan anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicit yang kini meneruskan
nilai-nilai luhur beliau, Amiin.
B. PERJALANAN HIDUP
Almarhum
H. Ma'ruf bin Abd. Hamid lahir di desa Sumberejo, Bojonegoro, dari keluarga
yang sederhana namun teguh dalam memegang ajaran Islam. Sejak muda, beliau
dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, jujur, dan memiliki kepedulian tinggi
terhadap sesama.
Dalam
perjalanan hidupnya, beliau kemudian merantau dan menetap di Kota Pasuruan,
tepatnya di daerah Bangilan. Di kota inilah beliau membangun rumah tangga,
berkeluarga, dan menghabiskan sisa usianya hingga berpulang ke Rahmatullah.
Meskipun bukan seorang yang kaya raya secara materi, beliau memiliki kekayaan
hati yang luar biasa: keikhlasan, kedermawanan, dan kecintaan yang tulus kepada
Allah SWT serta Rasul-Nya.
Semasa
hidup, beliau dikenal sebagai sosok yang taat beribadah, khususnya dalam
menjaga shalat berjamaah di Masjid Jami' Kota Pasuruan. Beliau juga memiliki
hubungan yang sangat dekat dengan para ulama, terutama dengan Waliyullah
terkemuka, KH Abd Hamid Pasuruan. Kedekatan ini bukan hanya secara fisik,
tetapi juga secara spiritual, hingga akhir hayat beliau dimakamkan bisa berdekatan
dengan sang guru—sebuah simbol bahwa hubungan mereka tetap erat, bahkan setelah
meninggal dunia.
C. KISAH-KISAH TELADAN
1. Keikhlasan Membangun Musholla: Istana
Hijau di Akherat
Di
suatu hari, terbesit dalam hati H. Ma'ruf keinginan mulia untuk membangun
musholla bagi warga sekitar. Dengan penuh hormat, beliau menyampaikan impian
suci ini kepada ayah mertuanya (H. Cholil). Tersentuh oleh ketulusan
menantunya, sang mertua pun memberikan bantuan dana untuk membeli tanah dan dibangunanlah
musholla tersebut. H. Ma'ruf mengawasi sendiri pembangunan musholla dengan
penuh semangat.
Setiap
tetes keringat yang jatuh ia niati karena Allah. Ia tak pernah merasa bahwa
musholla itu bukan hasil jerih payahnya sendiri. Justru ia bersyukur, Allah
memberikan jalan melalui mertuanya untuk mewujudkan impian itu.
Suatu
hari sewaktu pembangunan Musholla, KH Abd Hamid Pasuruan menyampaikan sebuah
kabar gembira kepada KH. Khumaidi. Dalam mimpinya, KH Abd Hamid melihat H.
Ma'ruf telah diberikan oleh Allah SWT sebuah istana megah berwarna hijau
(Zamrud) di surga. Istana itu adalah balasan atas keikhlasannya membangun
musholla, meskipun dananya bukan dari hartanya sendiri. Allah melihat hati
hamba-Nya yang ikhlas, bukan dari mana uang berasal.
Teladan: Keikhlasan
adalah kunci diterimanya amal. Jangan pernah meremehkan kebaikan, sekecil
apapun, karena Allah membalasnya dengan balasan yang tak terduga.
(Sumber : KH. Khumaidi Pasuruan)
"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid
Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta
(tetap) mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun)
selain Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat
petunjuk." (QS.
At-Tawbah: 18)
2. Kedermawanan Tanpa Batas: Tetangga yang Mendapat Pertolongan
Hasan
Kaspandi, tetangga H. Ma'ruf, sedang dilanda kesusahan. Anaknya sakit, dan
kesulitan keuangan, dan ia sudah berkeliling meminjam uang ke sana kemari termasuk
kepada saudaranya sendiri, namun semuanya menolak.
Saat
Hasan terlihat murung, H. Ma'ruf melihatnya dan menghampiri dan bertanya,
"Kamu kok terlihat sedih Hasan, kenapa?".
Setelah
mendengar cerita Hasan, tanpa berpikir panjang, H. Ma'ruf langsung meraih kotak
uang yang ada. Ia mengambil uang tanpa menghitung jumlah, lalu menyodorkannya
kepada Hasan. "Ini lho saya beri uang, tidak usah pinjam," katanya.
Hasan
tertegun. Ia tak percaya ada orang yang begitu tulus membantunya, bahkan tanpa
diminta dan tanpa menghitung.
Teladan: Tolonglah
sesama dengan tulus, tanpa pamrih, dan tanpa menghitung-hitung. Terlebih kepada
saudara, tetangga yang sedang kesulitan, karena mereka memiliki hak yang besar
dalam Islam.
(Sumber: M. Junaid bin Hasan Pasuruan)\
"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (QS. Al-Bayyinah: 7-8)
3. Madinah di Samping Mekkah: Pengakuan
Seorang Wali
Beberapa
orang dari Bojonegoro datang sowan (bersilaturahmi) ke KH Abd Hamid Pasuruan.
Ketika mereka mengatakan berasal dari Bojonegoro, KH Abd Hamid berkata,
"Ada di Pasuruan ini orang dari Sumberejo Bojonegoro, namanya H. Ma'ruf,
rumahnya di Bangilan. Sampeyan/ anda semua harus ke sana."
Kemudian
beliau menambahkan sebuah perumpamaan yang sangat dalam: "Ibarat
aku ini Mekkah, H. Ma'ruf itu Madinah. Sayang kalau tidak ke sana."
Para
tamu itu pun pergi ke rumah H. Ma'ruf di Bangilan dan disambut dengan hangat
oleh beliau yang ternyata berasal dari kampung halaman yang sama. Mereka pun
pulang dengan membawa berkah dari dua kekasih Allah: KH Abd Hamid Pasuruan (Mekkah)
dan H. Ma'ruf bin Abd. Hamid (Madinah).
Teladan: Orang
shalih saling menghormati dan mengangkat derajat satu sama lain. KH Abd Hamid
tidak pelit dalam memuji, dan H. Ma'ruf tidak sombong menerima pujian. Ini
adalah akhlak para kekasih Allah.
(Sumber: Ma’ Ali, Bojonegoro)
"Sesungguhnya
wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula
mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu
bertakwa." (QS. Yunus: 62-63)
4.
Kemuliaan di Waktu Subuh: Diketuk Nabi Khidir
Selama
tiga hari berturut-turut, setiap menjelang subuh, pintu rumah H. Ma'ruf diketuk
oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Orang itu mengajaknya berangkat bersama
ke Masjid Jami' Kota Pasuruan untuk shalat subuh berjamaah. Setiap selesai
shalat, orang itu selalu menghilang tanpa pamit.
H.
Ma'ruf yang penasaran kemudian sowan dan bertanya kepada KH Abd Hamid Pasuruan,
"Yai, siapa yang setiap hari mengajak saya ke masjid itu ?"
KH.
Abd Hamid menjawab dengan tenang, "Itu Nabi Khidir,
'Alaihissalam."
H.
Ma'ruf terkesiap. Nabi Khidir, makhluk mulia yang disebut dalam Al-Qur'an,
telah tiga pagi berturut-turut mengetuk pintunya, mengajaknya berjalan bersama
menuju masjid. Ini adalah tanda bahwa Allah SWT mencintai hamba-Nya yang shalih
ini.
Teladan: Konsistensi
dalam ibadah, terutama shalat subuh berjamaah, mengundang perhatian langit.
Allah memuliakan hamba-Nya yang istiqamah dengan kemuliaan yang tak terduga.
(Sumber: Ust. H. Hasan Ma’ruf)
"Dirikanlah shalat dari sesudah tergelincir
matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula) shalat subuh. Sesungguhnya
shalat subuh itu disaksikan (oleh Malaikat)." (QS. Al-Isra': 78)
D. AKHIR HAYAT DAN MAKAM
Almarhum
H. Ma'ruf bin Abd. Hamid
menghabiskan akhir usia di Kota Pasuruan, terus beribadah dan berbuat baik
hingga akhir hayat. Beliau wafat dalam keadaan husnul khatimah dalam usia 57
tahun, pada hari Selasa Legi tanggal 05 Maulid 1387 H atau 13 Juni 1967 M,
sebuah karunia yang telah ditunjukkan sebelumnya melalui pertemuan dengan Nabi
Khidir.
Sebagai
bentuk kemuliaan dan kedekatannya dengan para ulama, dan kedermawanannya
jenazah beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Masjid Jami’ Kota Pasuruan yang
berdekatan dengan makam KH. Abd Hamid
Pasuruan.
Hingga
kini, makam beliau menjadi tempat ziarah bagi keluarga dan masyarakat yang
ingin mengenang dan mengambil pelajaran dari kehidupan beliau.
E. PESAN UNTUK ANAK,
CUCU, DAN CICIT
Bagi
anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicit, Inilah warisan terbesar yang
ditinggalkan oleh Almarhum H. Ma'ruf bin
Abd. Hamid untuk kita semua. Bukan harta berlimpah, bukan tanah luas, bukan
permata berkilau. Namun sebuah nama
yang harum di dunia, dan istana
hijau di surga yang menanti.
Dari
kisah-kisah di atas, jadikanlah pelajaran-pelajaran berharga ini:
-
Ikhlaslah dalam setiap amal. Allah tidak
melihat besar kecilnya harta yang kita berikan, tapi seberapa tulus hati kita
memberi.
-
Jadilah pribadi yang dermawan. Ringankan tangan untuk membantu
saudara sesama, terutama yang sedang kesusahan, tanpa perlu diminta dan tanpa
menghitung-hitung.
-
Jaga shalat berjamaah, terutama di waktu subuh. Siapa
tahu, dengan keistiqamahan kita, Allah pun akan memuliakan kita sebagaimana Allah
memuliakan ayah, kakek, buyut kita.
-
Hormatilah para ulama dan orang shalih. Karena dengan
menghormati mereka, kita akan mendapatkan berkah dan petunjuk dalam hidup.
-
Tetaplah rendah hati, meskipun dipuji. H. Ma'ruf tidak pernah sombong meskipun
disebut "Madinah" oleh
seorang wali. Kerendahan hati adalah mahkota orang-orang shalih.
Semoga
kisah hidup Almaghfurlah H. Ma'ruf bin
Abd. Hamid menjadi lentera yang menerangi jalan hidup kita semua. Semoga Allah SWT mempertemukan kita semua
dengan beliau di surga-Nya yang
abadi, dalam naungan ridha dan ampunan-Nya.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
"Ya Allah Ya Tuhan
kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakan-lah petunjuk
yang lurus bagi kami dalam urusan kami." (QS.
Al-Kahfi: 10)
La hawla wa la quwwata illa billah
(Penulis : Al Faqir – Ramadhan 1447 H)





No comments:
Post a Comment